Senin, 19 Oktober 2009

Lailatul Qadar


LAILATUL QADAR (cerpen)


Malam ini malam ganjil menjelang akhir bulan ramadhan, seharian tadi aku merayu mama untuk minta sebuah ijin keluar rumah malam ini.
"Mama gak ingin ada apa-apa sama anak gadis mama, malam ini mama sedang halangan, mama gak bisa ngejagain kamu, mbok Sholat Lailatul Qadar-nya diMasjid komplek saja" sarannya memunculkan sanggahku yang tak kalah ampuh.
"Ayolah mah...Ozy kan udah gede, toh gak sendirian kok, jarak Pasar Minggu-Pancoran kan deket..."
"Mama...sebelum mulai shalat Lailatul Qadar disana ada ustadz Jaiz yang terkenal itu, selama ini kan cuma lihat dari tv"
"Pokoknya jgn khawatir, ada Alloh yg ngejagain Ozy..." lanjutku.
"Iya mama ijinin, jaga gamis dan jilbabmu ya sayank..." pesannya.
"Dan juga qalbu...!!! Ozy pasti ingat itu mah..." pesan mama kepada anaknya selalu begitu, dan setiap hari akan berulang jika anak gadisnya keluar rumah.

Senyumku terus berderai ketika mama mengiyakan anaknya keluar rumah malam hari, sebuah restu dari orang tua bukankah doa, doa itu tak hanya membuatku berjalan dengan pasti namun amanahnya menguatkan untuk terus kujaga. Mama memahami yang kulakukan untuk ibadah, namun egonya untuk menjagaku terlalu khawatir. Semoga Alloh memaafkan apa yang terburuk dariku dan dari mama.

Jalanan macet sepanjang apa aku tak tahu, mobil-mobil berjejer hingga tak terlihat kasat mata. Sekedar melepas bosan kemacetan setelah baca doa adzan isya' berkumandang selesai, aku memutar musik yang ada CD Player-ku. Aku menengok kebelakang, mukena, sajadah, tas, cemilan, Mushab kecil, jaket, semua itu aku pastikan lagi dijok belakang mobil. Ini jangan sampai ketinggalan, buku kecil berisi catatan dan berbagai macam pertanyaan telah kusiapkan, ini biasa kugenggam setiap mengikuti pengajian. Kali ini aku tak mau ketinggalan melontarkan pertanyaan kepada Ustadz Jaiz, semoga ada kesempatan untuk mendengar jawabannya langsung.

Tak diduga i-phone ku bergetar, ada telpon masuk mengajak video streaming, rupanya dari Tasya sahabatku.
"Adeuhhhhh Ozy kamu dimana ?" wajah cantiknya yang terbalut jilbab putih terlihat dilayar smartphone-ku.
"Tasyaaaaa...kayanya kamu belum salam deh, tau gak sihhh aku masih kena macet didepan penjual bakso mercon, mobilku gak jalan-jalan dari tadi..." jawabku sekaligus mengarahkan camera i-phoneku pada tulisan besar bakso mercon disebuah warung pinggir jalan.
"Gmana mau jalan, coba kamu lihat deh, para jamaah tumpah ruah dijalanan, mereka semua menyambut datangnya Ustadz Jaiz, subhanAlloh tampan sekali..."
"Udah deh jangan lebay gitu..." sahutku saat tangan kiri Tasya menempel dipipi seolah pesonanya keluar berlebihan.
"Kamu bakal nyesel deh, mending kamu jalan kaki, mobilmu parkir didekat situ aja, disini parkiran udah gak muat...." pikiranku terlintas akan saran Tasya, tak berapa lama orang-orang yang semula berada dalam mobil pada keluar, dari arah belakang orang-orang itu berjalan melewati samping mobilku.
Aku buka kaca jendela "kok pada jalan kaki, memangnya ada apa mas ? " tanyaku pada lelaki berbaju rapi yang sudah terlihat lusuh karena mungkin baru pulang kerja.
"Katanya mobil sudah gak bisa jalan mbak, ada pengajian yang jamaahnya pada duduk ditengah jalan..." ucapnya santai.

Tanpa pikir panjang aku ikuti saran Tasya meniru orang-orang berjalan, mobil pink mungil Honda Jazz berkaca gelap aku tinggal dipinggir jalan, tak lupa membawa bekal yang berada dijok belakang.
Sepanjang jalan orang-orang berlalu lalang dengan antusiasnya, mereka tak bersahabat, tak ada sapa diantaranya, seperti asing dimata, padahal jika aku perhatikan mereka berjalan dengan tujuan yang sama, Masjid Al Munawar Pancoran. Atau mungkin mereka ingin buru-buru melihat dari dekat Ustadz Jaiz seperti Tasya sahabatku.
Diseberang jalan seorang ibu berpakaian serba hitam menggendong gadis kecilnya kesompoyongan lalu jatuh ketika sirine mengaung, orang-orang yang jalan dibelakangnya berusaha menyusul langkah kakinya, ia tersenggol dan telungkup dijalan. Pemandangan yang memilukan, tak ada yang menolong. Apakah ini yang dinamakan dunia yang fana, semua pada buta ketika ada pahala yang ditawarkanNya ada didepan mata tak terlihat, mereka justru berlomba-lomba menuju masjid ingin menyambangi Ustadz Pujaannya.

Ya Alloh tujuanku bukan untuk itu, jauhkan aku dengan dunia yang membutakan ini, aku ingin menjemput Lailatul QadarMu. Aku yang akan menolongnya, terus berlari menyebrang jalan, terlihat ibu itu sangat kesusahan meraih tangan anaknya yang terus menangis, karena orang-orang begitu banyak yang berlari dan berdesakan disekitarnya.
Tiba-tiba kakiku terpelanting hebat karena pijakan tanggul dijalan rupanya rapuh, aku terjatuh, semua yang kubawa terberai dijalanan. Aku mengerang kesakitan, tapi kupikir ibu itu lebih membutuhkan pertolongan. Aku berusaha bangkit untuk meraih dulu Mushabku, aku berhasil menggenggam kembali kitab kebanggaanku.

Hahh...anak itu tak ada, ibu itu masih belum bangun dalam telungkupnya, aku berhasil memeluk tubuhnya.
"Ibu...mari saya bantu..." aku merasakan kakiku terkilir, jalanku pincang jika ingin membopongnya.
"Tolong...tolong...tolong bantu angkat..." teriakanku bagai angin lalu, sirine Masjid dan deru suara klakson menulikan telinga orang-orang. Aku berusaha semampu untuk membawanya kepinggir jalan.
"Tolong dekatkan anak itu kepadaku..." pintanya penuh harap. Telunjuk yang gemetar mengarah pada pojok tembok pinggir jalan tak jauh dariku.
"Anak itu...siapa yang menolongnya...?" batinku tak menyisakan tenagaku untuk istirahat sejenak, aku berjalan kearahnya. Sigadis kecil itu masih terus menangis.
"Malam ini cerah, banyak bintang diangkasa, jika terus menangis, bintang mulai redup mendengar isak tangismu adik cantik..." sapaku.
"...." dia diam.

"Malam ini ibu berbuat kesalahan, barang bawaan ibu terlalu banyak, belum lagi Geyza yang minta gendong..."
"Maksut ibu...?" tanyaku.
"Ibu menghalangi jalan mereka yang ingin menuju Masjid untuk mendengarkan Tausiyah Ustadz Jaiz..." jawabnya.
"Wahai Alloh sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku*" tangannya menengadah keatas, aku hanya menatap air mata yang mengalir dipipinya.
* doa yg diajarkan Rasulullah ketika menjumpai Lailatul Qadar (HR. Ibnu Majah).

Malam terus melanjutkan ceritanya.

*****

Suasana depan Masjid Al Munawar Pancoran begitu riuh ketika sebuah mobil caravan panjang terbuka pintu otomatisnya, keluarlah seorang berjubah putih menyengirai senyum yang menawan. Tangannya yang halus siap menjadi rebutan para jamaah yang berjubel sedari tadi menunggunya keluar untuk mencium. Mungkin itu salah satu yang membedakan antara orang semakin tinggi tingkat ilmu agama dengan ilmu dunia. Begitu dihormati layaknya panutan urusan akhirat.

Wangi semerbak parfum bunga keluar dari pesonanya, dia berjalan begitu pelan memberi kesempatan khalayak ramai untuk menatapnya lebih dekat.
"Ustadz...ustadz...ustadz.
.." teriak banyak orang dari berbagai penjuru, beliau hanya senyum dan menangkupkan kedua telapak tangannya, santun.
"Jamaah Rahimakumullah...beri kami jalan..." Ustadz itu bicara sepatah kata. Kontan jamaah yang berada tak jauh darinya, melebar memberi jalan.

Dikejauhan namun masih dilingkungan Masjid....

Seorang gadis cantik berusaha jinjit diantara kerumunan jamaah yang jauh lebih tinggi darinya. Dia menyiagakan kamera handphone untuk terus menyala, agar tak menyianyiakan momen yang ia inginkan.
"Aku harus dapat gambar pak Ustadz dari dekat, agar Ozy percaya dengan apa yang aku katakan..." batinnya.
"Permisi bang...bukan mahram nih..." ucapnya ceria.

Malam terus menyajikan bintang bersinar...

*****

Aku berjalan bergandengan dengan bunda Geyza. Dia tak menyebutkan nama aslinya, ibu itu lebih suka dipanggil bunda Geyza, kami kembali pulih setelah tadi istirahat cukup lama. Semua barang bawaanku sudah terkumpul, kembali ku periksa. Mukena, sajadah, tas, cemilan, Mushab kecil, jaket sudah kembali dalam genggaman.

"Ada yang kurang...???!!!" teriakku spontan.
"Fauziah...apakah sebuah buku yang kau cari ?" tangan Bunda Geyza menyodorkan buku, ternyata tidak salah itu buku catatanku.
"Terima kasih, bu..." ucapku.
"Iya...ayo jalan lagi..." ajaknya.
"Sebentar bu, ada yang tidak wajar dengan bukuku...".
Aku membaca kembali catatan yang tadi siang kutulis dikamar, satu pertanyaan yang dibawahnya ada jawabannya.
Perbedaan waktu atau jam dengan negara lain tentang turunnya Lailatul Qadar, karena pernah Rasul bersabda Lailatul Qadar adalah malam yg cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah (HR. Ibnu Khuzaimah).
Aku lanjutkan membaca sebuah jawaban yang cukup panjang.
Lailatul Qadar merupakan rahasia Alloh, untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya disepuluh malam terakhir, sabda Rasul "carilah dia pada sepuluh malam terakhir dimalam-malam ganjil" (HR. Bukhori Muslim). Malam-malam ganjil yang dimaksut dalam hadits diatas adalah malam ke 21, 23, 25, 27, dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara maka malam-malam ganjil dibeberapa negara menjadi malam-malam genap disebagian negara lain, sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qadar disetiap malam pada sepuluh malam terakhir.

Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya Lailatul Qadar itu kecuali Alloh, maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beri'tikaf disepuluh malam terakhir, Rasulullah dan sahabat pernah melakukan itu.

Semoga bermanfaat jawabannya.

Aku membalik kertas berikutnya...

InsyaAlloh lain kali aku akan menjawab semua pertanyaan yang ada didalam buku ini, aku berhutang budi padamu, sejak kau mengenalkanku dengan Ustadz Mukhlis, ilmuku semakin bertambah.
Aku tak bisa menemui malam ini.
Aku harus pergi secepatnya, ada pesan singkat yang datang dari pak Karman penjual nasi goreng, coba diingat-ingat tempat kita pertama kali berjumpa. Dia yang memberi berkah untukku dan untukmu ketika Indonesia bersholawat.
Dia sedang operasi gagal ginjal, mohon doanya.

Mataku mengalir butiran air, menetes hingga merubah raut mukaku untuk bersedih.

"As alullahal 'adzima rabbal'arsyil 'adzim ayyasy fiyak...Aku mohon kpd Alloh yg Maha Mulia pemilik Arasy Yang Agung, agar Dia menyembuhkan" batinku dalam hati.

Masih seperti dua hari setelah kita kenal, mengapa nomorku tetap tak bisa dihubungi, kali ini aku berikan jawaban atas pertanyaanmu, SUARAMU ADALAH AURATMU, maka...jaga itu Fauziah, gadis cantik calon penghuni surga.

Salam, afa-

Buku itu segera kututup, aku dekap bersama Mushab, serasa ada yang hilang dalam hatiku. Apakah itu yang dinamakan ego, ketika keyakinanku kembali dalam sukma, aku merasakan Mushab itu menghangatkanku. Ya Alloh aku bersujud dalam malam-malammu, jaga pak Karman dan afa, jika mereka tak sempurna maka apalah aku ini.

"Fauziah...ala bidzikrillah tathmainnul qulub..." tangisku dalam batin.

-pipowae-
"beristighfarlah...selagi kau masih hidup"

Minggu, 27 September 2009

Tolong Katakan Kepadanya-5


Malam berkabut putih, ketika kabut itu bercampur dengan air berubah warna menjadi hitam yang pekat. Kabut berpenyakit ini selalu muncul setiap saat, mereka biasanya menyebutnya polusi. Metropolitan dengan segala problematikanya selalu menebar racun kehidupan manusia, mereka tak menyadari atau bahkan menyadari namun himpitan kebutuhan membuatnya acuh tentang rongrongan kematian yang ada didepan mata lewat polusi udara. Lambat laun jantung menangis menjadi tumbal.

Jauh meninggalkan kota dengan lampu-lampu malam yang gemerlap. Sebuah villa mewah diperkampungan Srengseng Sawah bertingkat dua, seorang wanita mengaduk air berwarna putih digelas crystal dengan pelan didapur lantai bawah. Pandangannya resah dilemparkan pada wanita lain yang sedang berjalan mondar-mandir dilantai atas. Tak terasa yang ia aduk semakin mengental, air panasnya mengepul disela-sela adukan menyebarkan aroma susu putih yang menggoda.

"Dorrr...ngaduk malah ngelamun, susunya kental tuh..." lelaki kurus dengan sarung yang melingkar dibadan mengagetkan, tanpa tahu kedatangannya menepuk pundak wanita itu.
"Aduhhh kaget aku, aden sudah pulang belum ?" cara bicaranya pelan, mata wanita itu tengak-tengok seperti maling.
"Paling sebentar lagi, ada apa toh kaya takut banget..." jawabnya.
"Kalau aden jam segini belum pulang, pasti non marah-marah, aku takut..."
"Lama-lama aku gak tahan dirumah ini, tiap hari non dan aden selalu berantem..." lanjutnya.
"Hussss...itu urusan mereka, yang penting urusan kita perut kenyang, setelah itu urusan bawah perut..." sanggahnya.
"Ehmmmm...nggasruh (jawa : sembarangan)...!!!" sewotnya.
"Jangan marah dulu, maksutku minta tolong pijitin kakiku, soalnya seharian bersihin taman, capek banget..."
"Halah wong lanang aleman (jawa : lelaki kok manja), ogahhhh...!!!"

Wanita itu segera beranjak dari dapur, dia membawakan segelas susu kepada wanita yang sejak tadi menjadi perbincangan mereka. Tangga setengah melingkar dari kayu jati harus dilewatinya. Kayu pilihan itu memang tak diragukan lagi kekuatannya, terbukti villa itu dibangun oleh pak Hendra sudah 20tahun belum ada masalah kerapuhan. Semenjak dia meninggal villa itu diwariskan oleh anak gadisnya, pak Hendra meninggalkan harta yang sangat berlimpah untuk kedua anaknya, dan juga satu usaha pengelolaan batubara yang sekarang dikelola oleh putranya diTenggarong Kalimantan Timur.

Seorang wanita berambut pirang sedang menatap photo keluarga yang ada didinding, tangannya meraba pada salah satu gambar seorang lelaki tua. Dia menatap dengan amat tajam, tangan kirinya terus mengelus-elus perutnya yang sedang membuncit. Wanita dengan perawakan tinggi sekitar 170cm itu tengah hamil tua. Dia memakai setengah gaun setengah daster sutra berwarna ungu, kulitnya yang kuning bersih menambah aura kecantikan semakin keluar.

"Ini bibi buatkan susu untuk non Febi..." yang diajak bicara tak segera menjawab, wanita cantik itu terus menatap photo dinding yang berada didepannya. Kalut adalah hal yang paling dibenci setiap orang, namun hal itu sangat menghibur ketika hati sedang dilanda keresahan.
"Bibi taruh dimeja, diminum ya non, kata bu Hendra susu ini baik untuk kesehatan janin yang ada didalam perut non Febi...". Wanita yang sedang hamil itu berpaling menatap segelas susu yang menjadi tema pembincangan lawan bicaranya.
"Janin ini hanya ingin membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang tulus, apa gunanya janin ini sehat namun ketika ia menghirup udara didunia, dia tak mendapatkan apa yang harus ia dapatkan..." wanita tua itu mendengarkan dan merasakan galau dari seorang perempuan yang sedang hamil tua. Meskipun tahta yang membedakan antara keduanya, namun naluri seorang wanita sebagai pembantu itu merasakan trenyuh ketika kata-kata yang baru saja terlontar dari hati terdalam majikannya. Bibi Juminah sudah lama mengabdi kepada keluarga Hendra, dia sudah dianggap saudara sendiri oleh nyonya Hendra, wanita gemuk itu dipercayai untuk menjaga anak perempuan pak Hendra sejak Febi kecil.

"Mama tidak tau ini semua, bi..." perempuan itu memutuskan untuk duduk dikursi.
"Non...jangan sedih...kalau non sedih bibi juga ikut sedih..."
"Semua ini salahku, Riky hanya menginginkan calon bayi ini, dia sama sekali tak mencintaiku..." lanjutnya dengan nafas sedikit tersengal ketika dia menyebut nama Riky.
"Mungkin setelah anaknya lahir, dia bakal menceraikanku..."
"Non..." Bibi juminah membuka mulut untuk bicara, namun dia urungkan niat melanjutkan.
"Tenang bi...susu itu tetap aku minum, semakin sehat janin itu semakin cepat anak tak berdosa itu menghirup udara didunia, mungkin semakin cepat pula Riky menceraikanku, apa aku sebagai wanita hanya bisa pasrah dengan kenyataan yang sejatinya bukan pilihanku..." Perempuan bermata binar itu meneteskan air dari kelopak matanya, segala curahan hati dia tuangkan tanpa ada jengkal dinding tertutupi bagi Bibi Juminah yang sudah dia anggap sebagai teman hati. Jabang bayi yang sebentar lagi keluar mungkin mendengar dengan apa yang diresahkan ibunya, sesaat dia berkontraksi hebat dimasa 8 bulan usianya.
"Bibi...boleh peluk non Febi ?!" Dia mendekat. Seperti ikatan batin yang tak mudah terbaca, hati wanita begitu kuat ketika dihadapkan pada pilihan yang sulit.

Udara malam begitu syahdu, terlalu banyak yang mengalun dilangit-langit, lalu membelai daun dan ranting-ranting kecil pohon cemara. Binatang malam berdendang tak beraturan, namun terdengar indah ketika semua orang beradu dalam damainya. Cinta bisa mampir ketika kita tak menginginkannya, cinta juga bisa pergi ketika hati ini terpatri untuk menginginkannya tinggal. Tolong katakan kepadanya, apakah hati ini harus berpegang pada tiang yang rapuh.

*****

Malam masih akan terus malam, ketika matahari bersembunyi dibalik waktu, kegelapan terus datang hingga waktu jua yang membuka tabir misterinya. Gadis berparas cantik sedang menatap awan yang kelam. Sendiri ditengah situasi penuh ketidakadilan, dia terus menatap, apakah dia menghitung atau sekedar menerawang sinar sebagian bintang yang menghiasi malam.

Rambutnya tergerai rapi ditumpukan kain terikat yang dijadikan bantal. Sesekali dia melihat handphone yang digenggamnya, cahaya lampunya bersinar sebentar dikegelapan barak pengungsian. Dia menghela nafas panjang ketika tak ada jawaban menggembirakan dilayarnya. Gadis cantik itu kembali menatap awan, bibir tipisnya lebih memilih diam ketika hatinya berbicara akan kerinduan.

Keramaian warga jawa timur dengan corak bahasa yang berbeda dengannya tak membuatnya terganggu dalam lamunannya. Mereka berlalu lalang diluar barak pengungsian, dia masih terus menghabiskan waktu menatap awan dalam remang malam.

Gersangnya hati merindukan cinta
Kasih bukanlah lamunan
Maaf...bila aku hanya bisa menghadirkan malam Tanpa ada bintang

Hampa hati menorehkan resah
Derai senyummu membuatku gundah
Maaf...bila aku merasa tak cukup
Tolong Katakan Kepadanya
Jangan cuma sekelebat datang diremangnya malam

"Gak baek anak gadis melamun sendirian malam-malam..." Gadis berkaos biru langit itu nimbrung berbaring disebelahnya.
"Terus...lu mau ngapain Ras ?!" tanyanya.
"Ya harus ajak-ajak gw...!!!" jawab Laras.
"Ehmmmm...." Maya berbalik badan membelakangi Laras.
"Gw lagi nunggu sms dari Ahmad, telponnya tidak aktif, dia sedang apa ya Ras...??" Maya memeluk guling.

"Dia lelaki yang aneh, dia begitu baik, dia selalu ada untuk membuat gw terpukau dengan tingkahnya yang penolong, gw benar-benar jatuh cinta. Biasanya setiap kali pulang kerja dia selalu bawakan makanan dan buah untuk ibu. Lalu dia katakan "jika sesuatu yang aku bawa ini esok hari masih ada, maka aku takkan kemari selama 3 hari", darisitu gw bisa mengambil hikmah tentang nikmatnya berbagi rizqi sesama. Karena setiap makanan yang tak habis, ibu selalu membagikan ke tetangga, dan itu yang diinginkan Ahmad.

Gw pernah menciumnya sekali, semoga Alloh memaafkan gw ketika diMasjid Istiqlal. Waktu itu pelipisnya terluka penuh dengan darah, ia lagi-lagi membuat gw terkesima setelah Jessica sahabat gw bercerita tentang kepahlawanan seorang pemuda yang menolongnya. Gw yakin itu Ahmad. Dia malah merasa bersalah tidak menepati janjinya ketempat ultah sahabat gw. Gw lihat Ahmad berdzikir dipelataran Istiqlal, gw langsung menemuinya untuk mengajaknya pulang.

Gw tempelkan bibir ini dipipinya, darahnya ikut menempel diujung hidung, gw merasa bangga karena darah yang mengalir adalah darah keberanian. Gw ingin satu saat nanti Ahmad selalu ada disaat gw butuh". Lanjut Maya.

"Menurut lu apa yang gw rasa wajarkan jika jatuh cinta kepadanya ? " Maya bertanya pada gadis disebelahnya. Beberapa lama ia diam tanpa ada suara.
"Hah tidur, dasar pelor..." ujar Maya setelah memastikan dia berbalik menghadap Laras.

Tiba-tiba suara lirih terdengar diluar barak, suara lelaki sedang memanggil namanya berulang kali.
"Maya...maya...maya...lu disitu ?"
"Ras...bangun ada yang panggil nama gw..." Maya berusaha membangunkan Laras, dia menggoyangkan pantatnya, tak lama dia terbangun dengan gelagap.
"Knapa May ?" ujarnya.
"Temenin gw keluar, ada yang manggil-manggil gw..." Maya berusaha meyakinkan Laras.
"May...lu ada didalam gak ?" suara lirih itu kembali terdengar.
"Iya gw dengar, sebentar lagi keluar..." teriaknya untuk menenangkan orang yang memanggilnya dari luar.

"Ada apa Jef ?" tanya Maya.
"Yudi May...!!!"
"Kenapa dengan Yudi ?" tanya Laras sambil ngucek-ngucek mata.
"Tenang Jef, ada apa dengan Yudi..." Maya berusaha menenangkan Jefri teman satu misi.
"Mending lu lihat sendiri disana..." Jefri menunjuk kearah jalan yang sudah dikerumunin banyak orang.
Maya dan Laras berlari kearah yang ditunjukkan jari telunjuk Jefri, kedua gadis itu berlari dengan membawa rasa penasaran yang tinggi. Kerumunan orang menambah rasa khawatirnya tentang nasib temannya.

"Yudi...ya Alloh lu kenapa ?" Maya langsung jongkok sedang tangannya berusaha menopang kepala Yudi. Temannya terkelepar bercucuran darah diperut, Maya mencoba membuka kaos yang sudah bercap darah disana.
"Dia tertusuk May..." Laras bersuara.
"Apa yang kalian lakukan pada Yudi, siapa yang melakukannya ? Tolong jangan diam...!!! " Maya berteriak kepada kerumunan orang lokal, mereka hanya saling menatap satu sama lain. Pertanyaan gadis cantik itu membuat semua orang bingung, siapa yang harus menjawab pertanyaan berisi dakwaan, yang mereka sama sekali tak tahu siapa yang melakukan.

"May...bu...kan...me....re
ka..." kata-kata Yudi susah keluar, tersengal dan batuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Maya dan Laras mencoba memahami apa yang dikatakan Yudi.
"Ini pe...se....nan lu...May..."
"Gw...te...pa...tin...jan.
..ji kan...May...?!!" Lanjutnya.
"Wa...yang...Se...mar...!!
!" Tangan Yudi memegang kuat bungkusan kertas tebal berwarna coklat ada tangkai lurus dibawahnya, setelah dengan sekuat tenaga Yudi berbicara akhirnya lelaki dengan lumuran darah diperutnya pingsan, masih syukur kata yang terakhir yang ia ucapkan cukup jelas terdengar orang yang mengerumuni.

"Angkat dia...segera bawa dia ke rumah sakit...!!!" ucap Maya kepada Laras. Warga mencoba berebut membantu mengangkat tubuh Yudi. Antusias ringan tangan masyarakat Porong sangat besar, meskipun mereka pendatang perlakuan sama masyarakat disana menganggap seperti kerabat sendiri.

Kejadian Yudi adalah sebuah misteri yang belum terjawab. Malam dihiasi rembulan dan bintang akan terus melanjutkan kesaksiannya, angin semilir membawa arus debu bergulir begitu lambat dikerumunan orang. Maya dan Laras saling menatap seakan penasarannya menambah gundah disepanjang malam.


Kamis, 03 September 2009

Tolong Katakan Kepadanya-4


Terik panas menyengat kota Sidoarjo saat itu. Udara dan debu bersahabat bagi mereka yang menjadi korban Lumpur Lapindo di desa Porong. Pemandangan anak-anak kecil bermain disekitar pengungsian dekat rumah mereka yang telah rubuh, terlihat lusuh menggambarkan pahitnya kehidupan disana. Terus bercanda dan berlari serasa tanpa ada beban dipikiran mereka, tawa dan riang ala anak-anak. Tampak lelaki bertubuh hitam legam terus berupaya mengumpulkan dan menata bata-bata yang masih utuh diantara puing-puing rumah yang telah rubuh dilingkungannnya. Pak Masduki namanya, pria seusia kisaran 40 tahunan itu terus mengucurkan keringat kerja kerasnya.

Seluruh tanah didesanya ambles sedalam satu meter lebih setelah dua tahun lebih tanpa henti isi bumi keluar akibat kegagalan pengeboran gas yg dilakukan PT. Lapindo Brantas Inc. Akibatnya sedikit demi sedikit rumah-rumah runtuh dengan sendirinya.

Rumah pak Masduki terus berpacu dengan lumpur, diantara dua pilihan yang sederhana, menunggu rumahnya dirobohkan lumpur atau dia robohkan duluan. Kalau dirobohkan lumpur jelas ia tak dapat apa-apa, kalau dia yang merobohkan masih bisa memanfaatkan sisa genteng, batu-batu, kusen-kusen pintu, besi-besi bekas yang semuanya laku dijual.

Meski sederhana pilihannya, ia lama memikirkan hal itu. Baru setelah dia kepepet (jawa : terpojok) karena dua tahun tak juga dapat uang pengganti rumah dan tanahnya dari Lapindo. Dia lalu robohkan rumahnya.

Dilema yang terjadi, dia yang dulu tukang bangunan dan sekarang dia malah menjadi tukang merubuhkan bangunan.

Saat ini lelaki beristrikan bu Sumiati itu terus berupaya sekuat tenaga menghidupi keluarganya dengan kerja serabutan dikota Surabaya. Buruh bangunan kembali menggugahnya dari himpitan kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Lebaran kemarin dia kembali ke tempat pengungsian untuk menjenguk istri dan ketiga anaknya. Hanya bisa dihitung satu jari ditangan kanan anak-anak mereka bertemu dengan bapaknya, uang hasil kerja pak Masduki hanya dititipkan kepada tetangga yang kebetulan bisa pulang setiap dua bulan sekali, dia itu mandor ditempat kerjanya.

"Begitulah mbak cerita tentang suami saya, wis aku isone yo pasrah wae karo sing nggawe urip (jawa : aku hanya pasrah saja dengan Yang Maha Menciptakan Kehidupan), kadang juga merasa kasihan melihat pakne sendiri yang bekerja keras, saya hanya bisa membantu berjualan rujak cingur disekitar MI (Madrasah Ibtidaiyah) Glagah, lumayan bathine (jawa : labanya) untuk jajan anak-anak" ucap ibu setengah umur memakai daster merah muda yang sudah lusuh kepada Maya. Maya tak segan memeluknya, hadirnya sebuah bantuan program yang dicanangkan salah satu Bank dinegeri ini membuat warga Porong seakan menghirup udara segar. Maya dan kawan-kawan menjelaskan secara detail maksut tujuan program pelatihan usaha kecil bagi korban lumpur Lapindo, khususnya bagi mereka yang tak lagi semangat menghadapi kehidupan menurut mereka tak adil adanya.

"Mbak Maya...enthuk njaluk jepite rambut, aku ben ayu koyo mbak (jawa : boleh aku minta jepit rambutnya, biar aku ayu seperti mbak) " gadis kecil itu lucu ketika meminta dengan kedua tangannya saling bertopang manja.

"Husssshhhh...wis kono dolanan dakon, ojo ganggu mboke..." Bu Sumiati mengerdipkan mata pada si Mina, anaknya yang paling kecil.

"Ehmmm..." Maya hanya senyum setelah gadis kecil meninggalkan mereka berdua berbicara.

"Program dari Bank Mandiri apa boleh bagi saya yang sudah bekerja sebagai penjual rujak ?" tanya ibu Sumiati akrab kepadanya.

"Seperti yang sudah saya jelaskan kemarin, program kami tidak hanya untuk kalangan ibu-ibu saja yang belum bekerja, tapi juga bagi siapa saja yang ingin bersemangat untuk berwirausaha, Bank memprioritaskan dan mengkhususkan bagi korban lumpur di Sidoarjo ini. Dana untuk awal usaha ataupun untuk mengembangkan usaha dipinjamkan tanpa bunga secara rata kepada warga disini. Saya dan teman-teman saat ini hanyalah sebagai penyuluh serta penyurvey berapa warga yang antusias mengikuti program ini, untuk pelatihan wirausahanya ada tim tersendiri dilain hari. Ada berbagai macam yang ditawarkan, pelatihan menjahit, pelatihan tata boga, dan pelatihan-pelatihan usaha kecil yang lain, seperti merawat tanaman kualitas impor dan lain-lain".

"Ooo ngono toh, yo wis ibue ikut saja, lha wong ikut pelatihan juga sama saja menambah ilmu, mugo-mugo usahaku tambah tokcer..."

"Amien bu..." jawab Maya.

Geliat panasnya sinar matahari tak surutkan pasukan pembawa berkah, Maya dan kawan-kawan terus masuk dan berbicara dari masing-masing anggota keluarga korban lumpur. Mereka hanya membawa misi sosial tak lebih dari itu, bahkan gaji yang ia dapatkan jauh tak setimpal dengan pengorbanan yang mereka lakukan, namun mereka tak mengeluh.

"May...lu sudah dapat berapa ? Boleh gw duduk disamping lu ? ".

"Iya duduk aja Yud, gw dapat 51 orang, kesemuanya ibu-ibu..." jawab Maya kepada Yudi temannya.

"Banyak banget, gw aja gak ada 10 orang..." Yudi membuka snack (makanan ringan) yang ia bawa dari tadi.

"Sapa yang nanya lu??? Kayanya Maya nggak nanya deh..." ucap Laras sewot. Duduk Laras mendekat ke Maya, ia mau berbisik kepadanya namun diurungkan.

"Eh...sapa yang bicara ama lu ?! " jawab Yudi enteng.

"Oh ya May...ntar malam ada pasar malam di kampung petruk, kita kesana yuk, sekali-kali kita nikmati hiburan masyarakat kecil, ada pertunjukkan wayang segala, dijakarta gak ada tuh..." ajak Yudi sambil membuka bungkus lemper (makanan dari ketan yang didalamnya ada abon sapi dan dibungkus daun pisang lalu dikukus).

"Emang lu masyarakat besar ? Ngaca deh lu ?!" lagi-lagi Laras sewot.

"Gw kan gak ngomong ama lu Ras..." Yudi menimpal.

"Sori Yud, gw capek banget hari ini, gw mau langsung tidur..." Jawab Maya dengan harapan ia mengerti penolakan halusnya, tak lama Maya berdiri meninggalkan Yudi dan Laras.

"Hihihiiiiiii...cucian deh lu..." Laras mengikuti berdiri menyusul Maya berjalan melenggang.

"Ya udah gw pergi sendiri aja kalau gitu, gw bawain oleh-oleh wayang buat lu May..." teriak Yudi sambil siap menghabiskan potongan lemper yang tersisa.

"Mau yang wayang Arjuna atau wayang Bima ?! " lanjut teriaknya.

"Semar aja Yud biar nyamain ama perut lu, hahahaaaaaa..." balas Laras dikejauhan, Maya hanya tersenyum.

"Demi lu, iya deh gw bawain Semar..." batin Yudi dengan lugu.

"Aemmmmm...beuh...cuihhhhh...sial daun lemper gw makan...!!! "

*****

Disebuah gang Cempaka belakang Masjid As-Salam.

Ibu-ibu jamaah sedang berkumpul pengajian siang di hari jumat. Sebuah rumah kecil bercat biru dengan berbagai pot gantung diteras sudah kelihatan ramai perbincangan para ibu, acara pengajian yang biasanya diadakan tepat jam 2 siang ini belum menampakkan aktifitas inti. Pengajian setiap seminggu sekali ini selalu bergilir dari satu rumah jamaah ke rumah jamaah lainnya. Kali ini rumah bu Arum yang giliran mendapat hajat. Para jamaah ibu-ibu tampak masih menunggu jamaah lain yang belum hadir. Sudah cemepak (jawa : tersedia) suguhan minuman teh hangat dan jajan pasar bagi mereka yang baru saja datang.

"Silahkan bu Slamet, mbok duduk didalam saja, kita ngobrol-ngobrol disini..." ucap ibu berkacamata kepada wanita gemuk yang baru saja menaruh sandalnya.

"Oiya bu kemarin itu siapa jadinya yang dapat arisan ? Maaf lho saya gak bisa datang, lha wong bapaknya minta ditemenin beli mobil baru..." tanya ibu disebelahnya.

"Waduhhh ibu Sugeng ini beli mobil kok terusan, kaya beli pisang saja..." ucap ibu lain berbaju ungu terong.

"Yahhh daripada beli pisang dimakan sambil kepanasan kan enakan dimakan sambil kedinginan kena AC, sama suami yang baik lagi..." balas bu Sugeng.

"Asal jangan makannya ketuker pisang suami bu Sugeng...!!!" celoteh bu Renggo dikejauhan.

"Hahahaaaaaa...." terdengar gelak tawa ibu-ibu rumah tangga yang sedang punya hajat.

Ibu Arum masih tampak gelisah diluar,sepertinya tak ada lagi ibu jamaah yang datang, namun ia terus menunggu diluar. Nampaknya ada yang ditunggu, pasti seseorang yang sangat penting baginya, bolak balik menengok dilorong jalanan kampung, ia masih terus gusar.

"Ya sudah bu Hajjah Jannah, dimulai saja pengajiannya, sudah terlewat seperempat jam..." ucap ibu Arum kepada pimpinan pengajian ibu-ibu hari ini.

"Sepertinya masih ada yang ditunggu ? Sebagai tuan rumah silahkan bu Arum duduk didalam..." sanggah bu Jannah.

"Baik bu saya duduk disini saja, saya hanya menunggu bu Marsinah kok belum juga datang..."

"Oalah...menunggu calon besan toh..." ucap bu Ratna.

"Emang acara nikahan Maya sama Ahmad kapan bu Arum ?" tanya bu Sugeng.

"Saya siap menyumbang 2 kambing lho..." lanjutnya.

"Adeuhhhh terima kasih jeng, saya dan bu Marsinah sepakat akan menikahkan anak kita dibulan depan, insyaAlloh awal bulan Rajab tepatnya..." jawab bu Arum.

"Alhamdulillah..." serentak ibu-ibu pengajian mengamininya.

Ya Nabi salam 'alaika

Ya Rasul salam 'alaika

Ya Habib salam 'alaika

Sholawatullah 'alaika

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, namun bu Marsinah belum muncul juga dirumah bu Arum. Apa yang terjadi belum bisa dibayangkan olehnya, dia tak mau menduga-duga hal yang belum tentu kebenarannya. Seluruh ibu-ibu pengajian sudah pulang sepuluh menit yang lalu, terakhir meninggalkan rumah bu Arum adalah bu Ratna, karena ia adalah seksi kelengkapan, semua perabotan pengajian dia yang bertanggung jawab mulai dari pencatatan anggota hadir hingga ke tape dan speaker.

Sementara bu Arum sedang menyapu sebagian pelataran kecilnya yang masih kotor. Tangannya terus mengayun namun pikirannya mencoba menerka-nerka apa yang terjadi dengan calon besannya. Tak biasanya wanita seperti bu Marsinah absen dalam pengajian, padahal rajin kedatangan lebih awal tak diragukan lagi.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam, siapa ya ? Apakah bu Marsinah ?" jawab dan tanya bu Arum dari dalam rumah. Tak sabar akan menjawab gelisahnya hingga ia lupa mengenakan jilbab yang semampir (jawa : tertaruh) dikursi kayu untuk keluar menemui siapa yang datang.

"Alhamdulillah...bu Marsinah..." Bu Arum mencium kedua pipi bu Marsinah dengan gembira.

"ibu-ibu pengajian semua menanyakan ibu, saya khawatir ada apa-apa..." Bu Arum mempersilahkan duduk lewat tangan sopannya.

"Saya mencari data-data identitas Ahmad untuk keperluan hajat kita, saya fikir ketinggalan dikampung, gak taunya ada dirumah pamannya" jawab bu Marsinah.

"Lalu saya kesana lebih pagi dengan harapan bisa mengejar pengajian sore hari, eh malah macet total jalanan ada demo besar-besaran buruh bangunan, minta maaf bu Arum..." Lanjutnya.

"Iya gak papa bu, sebetulnya data bisa nyusul jika waktu sudah kurang seminggu..." sanggah bu Arum.

"Kalau bisa lebih cepat kenapa pilih yang terlambat, betul kan bu..." Bu Marsinah tersenyum hingga terlihat banyak kerutan didahinya.

"Ahmad Kemal Ramadhan, nama yang bagus, nama yang terakhir hampir mirip dengan anak saya, calon menantu ibu, Maya Denting Ramadhanti..." Bu Arum membuka berkas yang diberikan kepadanya, akta kelahiran Ahmad yang ia baca.

"Nama yang cantik, secantik orangnya..." ucap bu Marsinah.

Adzan maghrib menggugah hati dua wanita istimewa bagi kedua anaknya. Senja sekelebat menebar angin yang berhembus disetiap lorong lafal Alloh dan Muhammad di Masjid As-Salam. Kepala manusia angkuh bersujud sepadan dengan kaki untuk bersimpuh dihadapanNya. Satu hembusan nafas alirkan doa. Semua sama rata semua sama rasa. Manusia selalu hina dimataNya. Hanya Dia Yang Maha Segalanya.


Tolong Katakan Kepadanya-3


"Paman...celanaku bolong"

"Kalau gak bolong mana bisa dipake?!"

"Ini serius paman..."

"Bolong dimana? Nanti kalau udh selesai presentasi kita beli yg baru, udh siang nih, ayo berangkat...!!!"

"Bismillah...semoga gak kelihatan"

"Itu yang penting"

"klik..." suara flip lipatan telpon genggam yang mungil kembali tertutup.

Jakarta pagi ini tak secerah pagi kemarin, namun jalanannya tak pernah berubah masih seperti kemarin besok dan akan datang, kemacetan hal yang sudah biasa terlihat. Sebuah mobil sedan honda vios menghidupkan lampu sign dekat terminal persahabatan jakarta timur. Tak biasanya dengan situasi jalan yang sangat padat tukang parkir berseragam rompi kuning membiarkan mobil itu berhenti ditempat sempit.

"Siap bos..." ucap semangat lelaki kurus berseragam rompi kuning sambil tangannya diangkat kepada lelaki tua yang baru saja memarkirkan mobil. Tak lama lelaki lain segera masuk kedalam mobil sedan itu.

"Paman...ini mobil siapa?"

"Wis pokoknya kamu duduk manis saja, kita sudah ditungguin..."

"Ambil semua mas..."

"Terima kasih banyak bos..." lelaki didalam mobil memberikan uang sepuluh ribu kepada tukang parkir, uang yang tak biasa ia terima itu meninggalkan kesan sumringah diwajahnya yang kumal.

"Paman...kita mau kemana ?"

"Ambil berkas dijok belakang, itu proposal yang bakal kita presentasikan, tolong baca dan pelajari, dalam satu jam kamu harus bisa menguasainya" seorang yang mengendalikan kemudi hanya menengok kepada pemuda yang bertanya beberapa saat. Suara kembali senyap, obrolan ditengah kemacetan lebih tidak mereka pilih, diam tanpa suara, hanya suara penyiar radio yang centil menemani dan juga parfume wangi buah anggur yang mengisi kekosongan.

"Mal...apa yang bisa kamu lihat dari proposal itu ?" pria berkacamata yang biasa dipanggil paman itu melirik kaca spion sebelah kiri untuk memastikan tak ada motor yang nyelonong.

"Kemal hanya bisa baca dan menyimpulkan, Data pembangunan Apartemen Wisma Surga di Kalibata HILANG, sementara pekerjaan sudah berjalan 85persen, total dana yang dibayarkan baru 30 persen"

"Betul...pembangunannya berhenti 3 bulan yang lalu, PT. Dana Gesit Abadi membutuhkan suntikan dana untuk melanjutkan pekerjaannya, mereka membutuhkan konsultasi pembuatan data proyek yang hilang menjadi yang terbaru"

"Itu mudah paman, serahkan padaku, cuma yang menjadi masalah apakah data kita bakal diterima oleh pihak apartemen ?" lelaki pemuda bertubuh atletis itu mengungkapkan pertanyaan yang tak langsung dijawab.

"Apartemen itu milik satu orang, namanya pak Mito, dia salah satu orang berpengaruh dinegeri ini, kita harus mencoba untuk mendekatinya baik-baik..."

"Bagaimana kita mendekatinya ?"

"Itu yang sedang paman pikirkan..." seorang lelaki itu berfikir sangat keras hingga terlihat banyaknya lipatan dijidat, tangannya masih pegang setir, tak terlalu sulit untuk mengendalikan mobil bermesin automatic, karena tak perlu direpotkan dengan perpindahan gigi.

"Paman ingin Kemal yang menyelesaikan semuanya hingga tuntas..." ujar paman.

Lagi-lagi parfume berwadah kucing tidur itu menyemprot otomatis, wanginya menyebar hingga ke celah-celah mobil yang tak terlihat. Dingin dan wangi seperti terapi yang menyehatkan. Lelaki bernama Kemal masih mempelajari berkas ditangannya, sangat lama dia mengamati lembar demi lembarnya, dia belum pernah menghadapi pekerjaan yang menyita banyak pemikiran, sebelumnya Kemal adalah seorang mandor bangunan, lelaki muda itu dipercaya mengatur orang-orang untuk melakukan pekerjaan kasar dilapangan panas. Kali ini berbeda, pekerjaan yang ada didepan mata adalah jauh terbalik dari yang pernah dihadapi, dia harus mulai menyiapkan langkah apa yang harus dilakukan untuk melakukan dan menyelesaikan, menghitung lagi anggaran dari sketsa gambar tehnik, sudah tentu diakumulasi ulang secara jeli lalu dilakukan rekap kesemuanya.

"Gambar proyek yang ada hanya ini, paman ?"

"Kita bahas disaat presentasi, pihak PT. Dana Gesit Abadi siap membantu memberikan data apa saja yang masih ada"

"Semoga tidak hilang semuanya..." ucap Kemal.

Mobil sedan menghidupkan lampu sign kearah sebuah gedung bertype klasik, dinding gedung yang berhiaskan keramik corak natural berwarna coklat, disudut gedung terdapat air jernih yang mengalir tersorot lampu redup dari dalam tembok menambah kesan kalem (jawa : tenang). Terlihat gardu pos satpam terbuat dari kayu yang berkualitas, lalu disetiap pemisah parkir antara mobil satu dengan mobil lain ditumbuhi tanaman cemara kecil yang lebat hingga menambah sejuk dipelataran luar gedung, kekreatifan perencana tata letaknya berbeda dari kebanyakan gedung lain, tertata dengan sangat seni.

"Rapikan bajumu, pakai dasi ini, ambillah parfume paman didashboard untuk menyenangkan pikiran, bawa tas data ditangan sebelah kiri, pegang telepon genggammu ditangan kanan, lalu jalanlah tegap sesuai keoptimisanmu anak muda..."

"Baik paman..." jawab tegas Kemal.

"Ingat Kemal, proyek ini harus dijalankan dengan kejujuran, dan kamu punya itu...!!!"

"Ehmmm..." Kemal mengangguk.

"Bentar paman ada telpon masuk" ucap Kemal.

"Iya, kapan? Kok dadakan gini ? Berapa hari disana ?" terdengar Kemal mengajukan pertanyaan ditelpon genggamnya, tangan paman merapikan dasi yang dipakai Kemal, sesekali memandang keponakannya yang semakin besar semakin gagah, tiba-tiba dia tersenyum sekilas mengingat dulu Kemal kecil hingga sekarang yang selalu karab dengannya, ada banyak kesan terkenang yang susah untuk dilupakan.

"Hati-hati, ingat solat 5 waktu, bye..." telponnya berakhir.

"dari siapa ?" tanya paman.

"Maya, hari ini dia berangkat ke Surabaya, selama 5 hari disana, ada program pelatihan usaha kecil bagi korban lumpur Lapindo" jawab Kemal.

"Ooo...matikan handphone, masukkan SIM Card-mu ke Blackberry paman, selama proyek ini berjalan pakai smartphone itu, ingat jaga penampilanmu, Kemal sekarang bukan mandor lagi...!!!" ujar paman.

"Ehmmm..." Kemal mengangguk.

*****

House music terdengar kencang didalam ruangan yang lumayan besar, ruangan itu bercat hijau muda berlukiskan bintang dan mentari yang bersinar kuning serta orange, menambah kesan terang meskipun ruangan tersebut tertutup dan kedap suara.

Sepatu keds putih dan kaos kaki pendek menghiasi kaki putih yang bersih. Terlihat melakukan jump (inggris : loncat) berulang-ulang, pemilik kaki itu mulutnya komat kamit menghitung disetiap gerakannya, nafasnya ngos-ngosan secara bergantian menghirup dan menghembus menambah kesan semangat membara. Tak lama dia berbaring dilantai untuk melakukan gerakan set up, musik rancak (padang : ramai) menemani keringat yang mengucur disekujur badannya, musik disco konon tepat digunakan untuk menarik minat berfitness selain membuat orang bersemangat juga sangat berpengaruh dengan kontraksi jantung yang bekerja keras.

"Lu kayanya gak perlu melakukan itu deh..." ucap gadis yang baru saja membuka pintu fitness room.

"Maksut lu ? Gw pingin lemak diperut hancur berkeping-keping ? Huhhhh..." jawabnya dengan menghela nafas panjang.

"Jess...perut lu tuh dah kenceng kaleeee, lu tuh dah proporsional banget..." tangan gadis itu mengulurkan handuk kecil dan orange jus kepadanya.

"Thanks, srupuuuuuutttt..." ucap terima kasihnya dengan nyruput orange jus.

Dua gadis itu melepas lelah dengan bercengkerama diteras rumah yang menghubungkan pintu fitness room. Rumah mewah yang terletak dipinggiran kota itu bisa menghidupkan suasana, selain berbagai macam jenis tanaman yang merambat didinding taman juga ada patung dewa dewi yang berdiri ditengah kolam ikan. Cuaca panas jakarta sama sekali tak berpengaruh dirumah itu, meskipun tampak beberapa petak rumah kaca yang memayungi taman anggreknya.

"Gw masih penasaran dengan kejadian sebulan yang lalu, Ran..." gadis satu mengawali pembicaraan mereka disekitar taman anggrek miliknya.

"Akhir-akhir ini gw bermimpi lelaki itu, dia yang menolong gw dalam kejadian itu, gw berusaha mengikuti berita tentang perkembangan kejadian itu, polisi udah mendapatkan semua pelaku provokasi dalam peristiwa tawuran itu, saking pingin yakinnya gw sama pak min ke kantor polisi langsung, dia gak ada disana, dan gw yakin dia bukan termasuk pelaku provokasi tawuran di malam itu" lanjutnya.

"Udh tau gak yakin ngapain juga kesana" jawab temannya enteng.

"Gw gak tau Ran, gw ingin bertemu dia untuk kedua kalinya..."

"Jangan-jangan lu jatuh cinta kepadanya..."

"Gak tau, Ran..."

Angin siang menerpa rambut kedua gadis itu, gadis satu berambut panjang lurus hanya melepas nafas lega ketika mengutarakan jawabannya yang mengambang, gadis lain berambut lurus dikuncir hanya bengong merasa tak puas menatap wajah temannya yang menjawab pernyataannya.

*****

Kemeja lengan panjang berwarna putih dengan dasi merah maron menambah kesan wibawa pemuda yang berdiri diruang rapat. Ia menjelaskan panjang lebar tentang motifasinya untuk segera menyelesaikan proyek yang akan dia tangani itu. Keenam orang yang lain diruang itu tampak serius menyimak metode yang akan ia jalankan, sebuah layar yang menampilkan slide per slide dari sorot proyektor ia jelaskan secara runut. Gambaran langkah yang harus ia lakukan pertama hingga akhir pembuatan data yang hilang sudah diterima owner (inggris : pemilik) PT. Dana Gesit Abadi, tampak dari tatapan mata dan anggukan kepala disetiap selesai per slide nya.

"Metode yang akan kami jalankan ada 4 tahap untuk menyelesaikan dalam jangka waktu yang ditentukan..."

"Sori saya potong, berapa lama saudara menyelesaikan, soalnya waktu akan berpengaruh uang perusahaan yang menumpuk tak bisa keluar karena pekerja kami jg berhenti bekerja, kami membutuhkan percepatan..." ucap lelaki berjas krem dengan nada yang sangat anggun ketika menyela.

" Riky...biarkan Kemal melanjutkan presentasinya dulu " seorang lelaki tua menanggapi pertanyaan pemuda berjas krem itu. Pemuda yang bernama Riky merasa welcome dengan apa yang diungkapkan bapak tua itu.

"Pak Johan dan saudara Riky...pertanyaan yang anda utarakan akan saya jawab dislide berikutnya..." jawab Kemal.

"Untuk menjawab berapa lama harus diselesaikan akan saya jawab setelah saya menjelaskan 4 langkah yang harus saya ambil.

Pertama adalah perencanaan, untuk apa saya ambil perencanaan karena apapun bentuknya saya harus mengenal dan pelajari dulu jenis data yang anda punya, untuk menyikapi data yang hilang paling tidak informasi daya ingat bapak dan ibu sekalian sangat membantu kami.

Kedua adalah organisasi, setelah saya mempunyai amunisi untuk berperang, saya tidak ingin bekerja sendirian, ibarat perang saya harus punya pasukan, seperti kata Nabi tidak boleh bekerja ataupun berperang secara sendirian, kurang kompak persatuan bisa melumpuhkan kesatuan yang ada, saya mohon kepada pak Johan sebagai Board of Director diperusahaan ini mengabulkan permintaan saya untuk membentuk organisasi darurat diperusahaan ini menghadapi penyelesaian secara tepat dan akurat.

Ketiga adalah action atau bertindak, saya disini bersifat terbuka, konsultan sangat membutuhkan komitmen dari rekan semua yang menjadi bagian ini, disini saya akan bersikap tidak sebagai atasan didalam organisasi, namun bersifat rekan atau sahabat kalian, untuk menjalin hubungan yang baik dengan pihak customer saya siap bekerja 24 jam.

Keempat adalah kontrol itu sendiri, setelah data yang terbaru selesai kita buat, saya coba mengontrol dari semua aspek yang ada, customer adalah tetap prioritas utama, karena keputusan positif mereka adalah uang kita, disetiap langkah yang saya ambil sudah direncanakan dengan matang.

Saya mentargetkan uang perusahaan ini bisa keluar adalah satu bulan mulai dari sekarang...!!! " Kemal menjelaskan secara rinci disetiap metode yang akan dijalankan. Dia tampak serius mengakhiri penjelasan dengan gaya tangan yang sangat sopan.

" Bagaimana bisa saudara mendekati mereka untuk menandatangani draft proyek baru yang akan saudara buat ? " ungkap satu-satunya wanita didalam ruang rapat itu. Dia menunjukkan bolpen sebagai tanda sela dia berbicara, sebenarnya cara itu kurang sopan namun Kemal tetap melihat sebagai suatu bentuk pertanyaan Raja yang harus disanggah.

" Pendekatan...itu yang akan saya lakukan untuk menyelesaikannya, dengan cara apapun saya akan mendekati customer, secara halal pastinya " jawab Kemal.

" Cukup...cukup...cukup...ulasan kamu sangat menarik anak muda, saya menangkap maksut dan tujuannya, sangat bagus sekali metodenya.

Santi...nanti biar saya sendiri yang bawa Kemal untuk bertemu dengan customer kita langsung, pak Mito terakhir saya hubungi sangat membantu dan tidak ada permasalahan.

Saya hanya ingin penyelesaian data terbaru segera diselesaikan.

Kemal...saya juga ijinkan kamu untuk membentuk organisasi darurat dikantor ini, kamu diijinkan secara langsung mengimprove pasukan yang ada untuk pencapaian target satu bulan.

Ok saya pikir rapat hari ini selesai.

Kemal...saya perkenalkan saudara-saudari yang hadir dirapat ini, dari ujung adalah bu Santi, dia yang akan membantu kamu untuk mendapatkan data pengeluaran dari warehouse (inggris : gudang), dia seorang manager logistic Sebelahnya adalah pak Guruh, dia bagian keuangan, seorang Manager Finance dan Accounting.

Ini adalah Riky, pelaksana proyek, dia yang bertanggung jawab penuh untuk menemanimu menyelesaikan data, dia seorang Project Manager.

Dan ini adalah Michael, seorang arsitek handal yang kami punya, sebenarnya data terbaru bisa dibuat oleh Michael, namun ia punya job khusus untuk menyelesaikan yang lain.

Sudah jelas semua Kemal.

Riky...untuk sementara Kemal pakai ruang kerjamu dan kamu pindah diruangan saya. Kalian berdua harus saling kerja sama, perusahaan ini sangat percaya pada kalian.

Ok pak Darsono rapat hari ini selesai, terima kasih kalian semua " pak Johan pantas untuk menjadi pimpinan, seorang yang bijaksana.

" Paman gak salah punya keponakan hebat kaya kamu " bisik paman ditelinga Kemal.

" Tapi paman...saya butuh satu bulan untuk menyelesaikannya..." ucap Kemal canggung.

"Ingat...untuk mendapatkan ikan yang besar dan indahnya pemandangan laut kamu harus berani mengendalikan kapal hingga ke tengah samudra, kamulah nahkodanya, wujudkan mimpimu dan juga mimpi pak Johan " ucap paman membuat Kemal kembali bersemangat.

" Baik paman..."

" Ayo kita pulang...!!! "

" Sebentar saya mau sholat dzuhur dulu, sudah dengar adzan, takut lupa..."

" Ya sudah paman bicara dulu dengan pak Riky diluar, kamu cari musola sana..."

Astaghfirullah rabbal baroya...

Astaghfirullah minal khatoya...

Suara dzikir serak menggugah sukma

Rumah Alloh tak pernah surut akan gema surga

Hidup ini bergelimang dosa

Hamba berbuat nista

Lagi-lagi untukku meminta

Hanya Engkau Sang Maha Pengampun Dosa

" Assalamu'alaikum... " Kemal mengucapkan salam akhir solat wajib disiang hari.

" Den bagus...sampeyan ada disini..." ucap tiba-tiba menyahut tangan Kemal untuk bersalaman.

"Masih ingat saya ? Alhamdulillah Alloh mempertemukan kita, saya belum sempat mengucapkan terima kasih waktu itu...." lanjut lelaki tua bertubuh kurus.

Kemal bingung, mencoba mengingat-ingat beberapa kejadian yang telah ia lalui.

" Nama bapak adalah Parmin, panggil saja pak Min, den yang selamatkan bapak dan non Jessica waktu tawuran dimalam itu..."

"Oh iya saya ingat, alhamdulillah pak kita bertemu dalam keadaan sehat, maaf jika saya agak lupa, karena kejadiannya malam..." sanggah Kemal.

"Perbuatan yang baik memang sebaiknya jangan diingat-ingat, takut gak jadi pahala..."

"Amien semoga menjadi pahala, pak..."

"Jika non Jessica tahu bapak bertemu dengan sampeyan, dia pasti sangat girang bukan kepalang..."

"Tolong katakan kepadanya, ucapan terima kasihnya sudah saya terima dengan ikhlas, seikhlas-ikhlasnya..." Kemal tersenyum.

Astaghfirullah rabbal baroya...

Astaghfirullah minal khatoya...

Alam beristighfar terdengar riuh

Menyentuh jiwa dan ragaku

Dan rohku kepadaMu mensucikan jasad yang kotor

Astaghfirullah rabbal baroya...

Astaghfirullah minal khatoya...

Ya Rahman Ya Rahim Ya Ghofar

Hanya Engkau Sang Maha Pengampun Dosa



Kamis, 23 Juli 2009

Tolong Katakan Kepadanya-2


Aku tak pernah menduga pertemuan malam itu adalah pertemuan yang akan mengubah seluruh hidupku, aku adalah Maya, kemarin aku masih sebagai Maya yang tak pernah mampu percaya dg mahluk yg bernama cowok, setelah kelakuan bejat Riky menghancurkan mimpiku, mungkin mulai saat ini aku harus merubah penilaianku tentang cowok, aku harus tersenyum manis untuk almarhum ayahku dan juga Ahmad.

Hari ini genap enam bulan terlewati setelah bu Marsinah mengkhitbahku, saat itu dia tersenyum sumringah begitu aku menganggukkan kepala menerima pinangan Ahmad. Bu marsinah salah seorang ibu yang berjuang keras mendidik dan membesarkan kelima anaknya. Ditinggal suami sejak kelima anaknya membutuhkan panutan dan kerja keras seorang ayah, meskipun semangat bu Marsinah selalu tumbuh namun takdir yang bicara kenyataan. Hanya Ahmad yang bisa menyelesaikan sampai STM, yang lain hanya lulus SD, lalu kebanyakan dari mereka memutuskan bekerja dan berkeluarga dikampung.

Ahmad adalah lelaki kedua yang mencoba mengisi hatiku dengan keberanian yang mengesankan. Ada nilai tambah dihatiku untuknya, selain tampan dan agamis, dia juga lucu. Ahmad selama ini tidak berani memandangku terlalu lama, jika aku menyentuh tangannya, dia gemetar lalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan. Meskipun selama ini dia tidak pernah mengatakan kata Cinta kepadaku, aku yakin dia bukan lelaki yang lemah terhadap wanita. Aku merasakan ada yang gemetar dihatiku "tolong katakan kepadanya...aku mencintanya..." batinku mengiringi senyumku.

"Aduhhhh...anak ibu mau kemana udah cantik begini?" sindir ibu jika aku berbeda dari biasanya, pasti sebentar lagi dijemput Ahmad, itu tebaknya.
"Hari ini hari ulang tahun Jessica, Maya diundang untuk dua orang, rencana mau ajak Ahmad, boleh kan?"
"Iya boleh, hati-hati ya nak..." pinta ibu.

Aku melihat detak jarum jam terus berdetak, sepuluh menit lagi janji Ahmad datang menjemputku. Dia membawa kado untuk sahabatku, aku pasrahkan dia untuk membungkusnya, aku yakin pasti rapi. Aku sudah tak sabar melihatnya kenakan baju yang aku pilih. Dia pasti kelihatan gagah terbalut sweater diantara bajunya. Dia pasti sopan dengan gelagatnya yang mengagumkan. Dia pasti...handphone ku tiba-tiba bergetar sebentar, sms aku terima. "Maya berangkat saja dulu, aku tak bisa jemput tepat waktu, kita ketemu disana, sms-in alamatnya" dari nomor Ahmad.

Kekecewaan hanya sesaat, aku tidak boleh terlambat dipesta sahabatku. Aku bergegas untuk menepati amanat.
"Taxi...!!!" teriakku.
Selama diperjalanan aku bicara banyak dengan bapak sopir taxi, agar mengalihkan rasa khawatirku kepada Ahmad, berbagai macam pertanyaan dan jawaban tentang Ahmad berputar-putar dikepala. Tidak biasanya dia mengecewakanku dengan janjinya, semoga tidak terjadi apa-apa. Sesekali aku meraba handphone, tak ada getar yang menandakan sms maupun telpon masuk. "Astaghfirullah...aku lupa nge-cas, tak lama lagi baterainya lowbat, yahhhh langsung mati..."

"Belok kanan atau belok kiri, non..." ucap bapak sopir taxi.
"Iya itu pak, rumah yang banyak mobilnya..."
"Kok ada mobil aerio warna silver, itu kan mobilnya...ahh semoga saja bukan dia..." gumamku dalam hati.
"Hai Maya...lu cantik banget..." pujian Rani menyambutku.
"Jessica mana Ran ? Kok belum kelihatan ?! " tanyaku.
"barusan gwe telpon lagi dijalan, habis keluar salon, pokoknya gak bakal kalah cantik sama elu deh..." celotehnya.
"Yukkk masuk dulu, rilex and minum-minum dulu..." ajaknya.
Rumah ayah Jessica sangat luas, lantai bawah saja jika dibuka pintu kayu itu menghubungkan jalan ke taman yang asri, banyak tanaman yang rindang dan remangnya cahaya lampu taman yang menyinari air jernih dikolam renang, menambah suasana malam ultah Jessica menjadi indah. Aku memilih duduk di mini bar dekat ayunan kayu yang biasanya tempat membaca buku Jessica, jika hari libur tempat ini adalah tempat favoritnya, dari pagi hingga sore dia lebih menyukai bergelut dengan buku, Jessica yang cantik ternyata punya kesamaan denganku, Kutu Buku.

"teman-teman semua untuk menunggu teman kita yang berbahagia datang, kami tampilkan Group Band yg sengaja diundang dimalam ulang tahun Jessica, ST12...!!!" ucap MC yang tak lain dan tak bukan si Tiara, temanku sebangku waktu SMA.

"Charlie...charlie...charl
ie..." teriak cewek-cewek begitu sang vokalis ST12 keluar lalu melambaikan tangan kepada mereka, aku lebih memilih tetap duduk disini, ditemani sepotong "cake ice cream" dan segelas kristal berisi lemon tea. Dari kejauhan aku melihat sang vokalis menyapa tamu undangan dengan sopan, sesekali dia menyambut tangan cewek-cewek yang sedari tadi mencoba meraihnya.

Mereka mulai membawakan lagu yang tak asing lagi bagiku, "PUSPA, Putuskan Saja Pacarmu". Meriah suasana pesta malam ini, semua cewek berloncat-loncat mengikuti alunan melodi, penampilannya sempurna. Aku masih menyaksikan dari kejauhan, setiap kali mata kuarahkan ke gerbang pintu masuk, tak ada aktifitas yang berarti, hanya 5 orang satpam yang berjaga disana, banyak mobil mewah yang terparkir dihalaman sebagai materi penjagaannya. Hati ini berharap seorang pangeranku datang kesini saat aku sedang menyendiri, Ahmad pasti mencoba menelponku, sayang bateraiku tak mengijinkannya, ayo dong kamu kesini, batinku.

Sudah hampir satu jam ST12 membawakan banyak lagu, namun Jessica juga tak kunjung datang. Perasaanku jadi tak enak, aku harus menemui Rani, dia tak boleh larut dalam penampilan Charlie, meskipun anak itu nge-fans banget dengan ST12, dia tak boleh lupa dengan Jessica. Aku bangkit dari duduk untuk mencarinya dikerumunan, aku takut jatuh diantara lonjakan tamu undangan, sepatu hak-ku terlalu tinggi.

"Untuk lagu selanjutnya, ST12 akan persembahkan khusus untuk Jessica, "Saat Terakhir"..." ucap Charlie sang vokalis. Serentak tamu yang hadir berhenti loncat lalu diam sejenak, alunan suara Charlie menghipnotis mereka semua, termasuk aku. Aku melihat dikejauhan sosok lelaki yang kukenal sedang berdiri dekat kolam renang, dia memakai baju itu, warna biru kesukaanku dengan sweater putih tanpa lengan membalutinya. Aku melihat dengan samar, tapi aku yakin itu dia. Segera kuberlari mendekati, menghampiri tanpa sepengetahuannya, tanpa berfikir panjang aku peluk dia dari belakang.
"Ahmad...kena kau sayank...!!!" teriakku mengagetkannya. Dia berputar, kuharap dia menyambutku dengan gembira.
"Maya...!!!" dia memanggilku.
"Riky...!!!" serempak pelukanku melepaskan, aku hampir terjatuh kekolam saat kaget.
"Siapa Ahmad yang kau panggil sayank?" tanya Riky.
"Itu bukan urusanmu...!!!"
"Aku masih mencintaimu, Maya. Sebentar lagi aku akan menceraikan Febi, kita akan menikah..." ucap Riky membuatku jengkel.
"Jika kau berani menceraikan sahabatku, ajalmu tak semanis perjalanan hidupmu...!!!" teriakku bersamaan lariku meninggalkannya, aku tak ingin melihat wajah betinanya, dia bajingan lebih dari seorang bajingan sekalipun.
"Ingat Maya...aku akan mendapatkanmu...!!!" teriaknya dengan jelas terdengar orang-orang yang ada disekitar kolam.

Lagu ST12 mengiringi derai air mataku...

Kau akan pergi tinggalkan kusendiri
Begitu sulit ku bayangkan
Begitu sakit kurasakan
Kau akan pergi tinggalkan kusendiri

Dibawah batu nisan kini kau telah sandarkan Kasih sayang kamu begitu dalam Sungguh ku tak sanggup ini terjadi Karna ku sangat cinta

Satu jam saja
Kutelah bisa
Cintai kamu...kamu, dihatiku

Namun bagiku
Melupakanmu butuh waktuku seumur hidup

Satu jam saja
Kutelah bisa
Sayangi kamu...
Dihatiku
Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup

Selamat jalan kasih...

----

"Jessica...elu kenapa ???!!!" tanya Rani mencoba membantu Jessica berjalan tertatih tatih. Keluar dari mobil taxi Blue Bird versi Merci dengan pak Min sopirnya. Ada yang aneh dengan sahabatku.
"Mobil elu kemana Jess ?" pertanyataan itu yang mau aku utarakan, namun sudah didahului Tiara. Aku mencoba menerobos kerumunan orang-orang yang menyambut Jessica dan pak Min turun dari Taxi.
"Jessica...wajah lu memar...!!!" ucapku.
"Maya...elu datang ? elu cantik banget dengan gaun itu..." ucap Jessica.
"Kasih Jessica kursi, Ran..."
"Ok May...gwe ambilin..."

"Makasih banyak teman-teman, kalian sudah datang diacara ultah gwe, kalian pasti menikmatinya kan ?!"
"Jess...kita semua menikmatinya, elu kenapa ?" ucap Tiara.
"Ceritanya seru Tiara, sewaktu Rani selesai telpon, gwe udah keluar dari salon, dan dijalan tuh macet banget tau gak sih..." cerita Jessica membuat para tamu undangan menyimaknya.
"Secara gwe harus buru-buru pulang, karena kalian udah pada nunggu. Semula gwe gak percaya kemacetan itu bakal lama, namun pak Min nenangin gwe dengan hidupin musik. Tak taunya diujung lampu merah ada api yang besar meliuk-liuk, gwe mengira ada kebakaran. Elu tau gak sih ternyata tawuran antar kampung, uhhhh...ahhhhhhh..." Jessica menarik nafas.
"Lalu Jess...?" Rani menyeka.
"Mereka gak cuma puluhan, mungkin ratusan, gila banyak banget tau gak sih, gwe ngliat puluhan batu-batu besar terbang ke udara. Tiba-tiba orang berlarian keluar mobil menyelamatkan diri, tawuran itu terus berlangsung, malah tambah menggebu, secara gwe panik bukan kepalang, pak Min menyarankan tetap dimobil, secara orang-orang membabi buta dijalanan. Ada yang bawa pedang samurai, ada yang bawa kapak, ada juga yang bawa palu, mereka semua memakai helm. Secara gwe nyaksiin semua itu, tepat diluar mobil gwe beberapa orang terkelepar dijalanan, darah dimana-mana tau gak sih. Jika gwe keluar bakal terluka, jika gwe tetap didalam apa jadinya. Yang bisa gwe lakuin cm berdoa, mobil sudah mulai pecah kaca depan karena batu besar nyasar tepat didashboard. Jika mereka melihat bisa-bisa gwe diperkosa kali, secara gwe pake gaun yang terbuka lengan dan punggung. Bayangin deh, Ran...gmana takutnya gwe waktu itu...??!!! Mereka semua kalap..." Jessica mulai teratur mengeluarkan nafas.

"Bagaimana elu bisa keluar, Jess...??" tanyaku.
"Huhhhh...itu yang gwe sesalin May, kenapa juga gwe gak nanya siapa nama orang yang nyelametin gwe dan pak Min itu. Pak Min sempat nanya gak?" tanya Jessica ke pak Min. Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
"dia memecahkan kaca belakang mobil, dimana gwe duduk, dia menyuruh gwe keluar, lengan dan mukanya terluka karena pecahan kaca, tuh orang terus melindungi gwe dan pak Min untuk dibawa ketempat aman, dia terus menggandeng gwe, gwe kagum ma dia..."

"Yahhhh...malah cerita cinta deh..." celoteh Rani.
"Ok gak papa, yang penting elu dan pak Min selamat, lanjut pestanya..." Tiara menyahut.
Aku melihat Jessica tersenyum bahagia, entah apa yang sedang dia fikirkan, matanya hanya menerawang, mungkin mencoba menggambarkan kejadian yang belum pernah terjadi dengan seorang Jessica sebelumnya.

"Itu apa yang elu genggam Jess...?" tanyaku.
"Dia memberikan gwe kado, dia mengatakan kado ini seharusnya untuk sahabat dari orang yang dikasihinya, karena dia datang terlambat, percuma kado ini disampaikan, lalu dia menyerahkan ke gwe..."
"Gwe bilang hari ini hari ultah gwe, dia baik banget, Maya..." aku melihat rona merah Jessica tidak dari make up, tapi dari rasa kagum terhadap orang itu.
"Apa mungkin dia Ahmad-ku?!" tanyaku dalam hati.
"Jess...boleh gwe peluk elu ?? ajakku.
"Jangan jatuh cinta kepadanya, Jess... Kado itu memang buat elu dariku, sahabatmu..." batinku dalam hati.

"Gwe harus pulang, Jess... Udh malem, Met ultah ya..." aku mencium pipi Jessica.

Aku harus pergi secepatnya dari sini, aku tak mau bertemu Riky sementara Ahmad terluka disana, aku yakin yang diceritakan Jessica dan melihat dari kado yang ia pegang, pasti Ahmad yang berjasa. Sampai saat ini hatimu masih terlalu murni untuk disentuh kejahatan dan kebohongan, kejadian demi kejadian kau selalu ada untuk menolong, bahkan Jessica sahabatku sendiri kagum denganmu, ya Tuhan jika semua itu terjadi denganku, apa Ahmad akan selalu ada untukku.

"Aku tau dimana kau berada sekarang sayank, Ahmad pasti merasa bersalah denganku, janjinya untuk datang sudah lebih dari terlewati..." gumamku didalam taxi.
"kita sudah sampai, non..." abang Taxi berkata.
Masjid Istiqlal Jakarta, papan semen bertuliskan itu masih terlihat, lampu sorot masih terang menerangi jalan masuk parkir Masjid Besar di Jakarta ini. Aku pergegas langkah, karena yang kucari belum terlihat. Kebiasaan menyendiri dimasjid tidak terlewat dari perhatianku tentang Ahmad, aku tau dia menyukai masakan yang manis, aku tau idola pemain sepakbolanya, tim kesayangannya, jenis buah yang ia suka, bahkan sampai warna sarung yang sering ia pakai sewaktu sholat, aku tau.

Pintu masuk Masjid sebelah timur, itu yang kutuju.
"Itu dia...tak salah lagi..."
"Assalamu'alaikum..." lirihku membuyarkan matanya yang semula terpejam. Jari-jarinya masih memilin pelan butiran tasbih kecil yang berjumlah 33 biji.
"Ahmad...ayo kita pulang..." ajakku.
"Tidak ada yang disesalkan, kau telah berbuat sesuai dengan jalanmu, aku tak kecewa..." lanjutku.
"Mengapa kau tak pernah mengatakan kata Cinta untukku ?" tanyaku mengisi kekosongan, udara malam membelai bibirnya yg sedang berdzikir.
"Masih...." ucapnya.
"Jelas terlihat olehku keraguan dimatamu. Aku bukan seperti mantan kekasihmu dulu, yang mengkhianatimu, karena aku juga pernah terluka dan rasanya begitu menyakitkan. Dulu memang pernah ada yang mengisi palung hatiku, namun itu dulu. Sekarang yang ada hanya kamu, tak ada yang lain selain kamu bahkan tak boleh ".

"Masih...." lanjutnya.
"Masih saja ku lihat rasa khawatir itu lewat ucapanmu. Aku tau semua seperti sulit dipahami, karena sekuat apapun kujelaskan padamu kau takkan pernah mengerti. Betapa aku memilih kamu untuk menjadi pasanganku. Bukan karena aku menghormati ibu saja. Bukan pula karna aku tak cinta. Semua begitu sulit dijelskan oleh kata-kata manusia. Harusnya ada sebuah kata yang mengungkapkan perasaan ini selain sekedar kata CINTA semata. Tapi aku memang tak bisa mengatakan kata CINTA untuk sembarang orang. Meski kau sekarang telah jadi kasihku. Aku hanya CINTA Pada ALLOH, Rasul, istri dan keluargaku nanti" ucapnya membuatku terharu, sejauh itukah berfikir tentang pertanyaan yang kulontarkan.

"Ahmad...pelipismu berdarah, kita harus pulang, jgn fikirkan itu..." ajakku untuk membuatnya berbesar hati.
"Bersabarlah... Karna suatu hari nanti aku pasti berkata AKU CINTA KAMU"
"Ya Alloh...tolong katakan kepadanya, aku juga cinta dia..." batinku terharu mengatakannya. Kusentuhkan bibirku dipipinya dengan lembut, dia membuka matanya untuk melihatku.

Aku tersenyum ketika melihat tingkahnya yang serba salah, jari-jarinya semakin percepat memilin butiran tasbih.
"Astaghfirullah..." ucap Ahmad.
"Maya...aku harus wudhu lagi..."

Sapanya merendah bertafakur
Desahnya meninggi beristighfar
Dia katakan cinta dengan hati...
Darah ini suci, hanya untukmu jejaka

Bibirku menyentuhmu
Ada ikhlas yg tersirat, hasratku patahkan nafsu
Tolong katakan kepadanya
Jangan paksa aku menikmati gemintang sendirian

"Maya tasbihku ketinggalan diMasjid"
"Ahmad kita sudah jauh dr Istiqlal"
"tenang mas nanti biar ta ambilkan, kasih nomornya saja, begitu nyampe sana ta miskol, habis ini kemana mas?"
"kanan pak"
"ya boleh, saya setuju sekali kalo makan"
"hihihiiiii...abang taxi-nya ternyata budi (baca : budeg dikit)" Maya tersenyum manis sepanjang malam.

-pipowae-
nama penaku
imagination and written by : pipowae
(cerita ini kupersembahkan bagi mereka yg tak pernah salah dimata Alloh, selain Muhammad ada gak y, Ya Alloh Gusti mugi ngapuro...!!!)

Senin, 13 Juli 2009

Tolong Katakan Kepadanya


"Berangkat kerja, non..." sapa ibu Marsinah penjual nasi uduk didepan Masjid komplek rumahku. Beberapa hari ini aku semakin enggan menjawab sapanya setelah seminggu yang lalu ia berniat menjodohkanku dengan anaknya. Biarkan saja ia menyebutku gadis yg sombong, berjalan melenggang didepannya tanpa sapa. Aku punya alasan sendiri jika tak menyapanya hari ini, segera aku pergegas langkahku, karena yang biasanya aku tunggu sudah tiba tanpa hatiku larut dalam was was, yupz Bus Kopaja (Bus Koperasi Angkutan Jakarta) jurusan Rawamangun. Meskipun berdiri sesak dan pengap namun pagi ini terasa lebih segar, rintik hujan yang tak begitu deras mengguyur atap bus kota yang mulai aus dan berkarat.


Apa aku salah tak menyapa bu Marsinah, apa aku salah jika alasan lamarannya menjadi renggangnya silaturahim, apa aku salah jika menolak lamaran orang, apa mungkin bu Marsinah berfikir yang tidak tidak kepadaku setelah lamaran yang belum terjawab olehku, apa mungkin bu Marsinah berfikir aku sombong, karena seorang gadis pegawai bank yang selalu berpenampilan cantik dan wangi sehingga menghiraukan sapanya sebagai penjual nasi uduk yang kumal, apa aku salah dengan semua pertanyaan yang mengarah pada kesalahan, berjuta macam pertanyaan muncul dikepalaku, sampai aku memutahkannya namun tak mampu.

Aku mengenal bu Marsinah hanya dari cerita ibu dan tetanggaku, dia orang tua kesekian kali yang datang kerumah untuk melamarkan anaknya untukku. Menurut ibu anaknya lumayan rajin dalam hal ibadah, soal tampang itu relatif, itu yang ibu ucapkan kepadaku. Berbeda dengan tetanggaku, anaknya bu Marsinah tak layak bersanding denganku, selain pekerjaan yang belum mapan, selalu pulang malam, dan terakhir mereka membandingkan dengan Riky yang dulu, sangat jauh katanya.

"Maya cantik ya bu, apa sudah punya calon ? Bagaimana kalau dia dijodohkan dengan anak saya, Ahmad namanya..." ucapnya malam itu, aku hanya mampu bersembunyi dibalik kamar, ibu menemuiku seketika dengan mendapat jawaban yang sama dariku. "aku masih mencintai Riky, bu..." lirihku, ibu hanya menghela nafas panjang.

Seandainya saja Riky tidak mengecewakanku, tidak membuatku terluka berminggu minggu, aku tidak akan bercerita kepada ibu tentang kemunafikannya, aku masih belum bisa melupakan kesalahan Riky, ibu juga masih belum terima kecerobohannya, permintamaafannya tak cukup mengobati luka gadis ceria sepertiku. Namun cinta Riky seakan mematri relungku, tak mau pergi meskipun aku nilai dia itu tiada. Cinta itu belum sirna, meski sakitnya terasa sampai pada ujung nadi.

"Riky yang menghamiliku, Maya..." kata-kata Febi itu menghantuiku setiap saat, sahabat yang kupercaya seratus persen kini hanya setengah-setengah menjaga persahabatan itu, dia menikam cinta yang aku banggakan, dia mengambil Riky-ku disaat ladang luas cinta akan aku tebar benih bunga yang indah, apa mungkin Riky terlalu sempurna dimataku, kehidupan yang mapan, materi yang berlimpahan, wajah yang rupawan, sopan dan mencuri hatiku hingga tak berbekas ketika dia menyembunyikan kesalahannya, sehingga aku menghiraukan semua lelaki yang datang melamarku. Ya Alloh ini bukan mataku jika melihat namun tak terlihat kesalahan fatal Riky, cintaku kepadanya justru menggebu. Ini bukan pula hatiku jika sampai detik ini masih menyimpan cerita indah bersamanya, harus dibuang jauh-jauh, sejauh timur dan barat, dihancurkan berkeping-keping, diluluhlantakkan.

Tak terasa sudah dua per tiga perjalanan yang kutempuh, kulihat sekeliling orang berdesakan, berjubel memasang tampang tegang dan tergesa. Mereka adalah orang metropolitan, yang sehari-harinya mengejar dan dikejar kebutuhan hidup. Berbagai macam corak keinginan, meningkatkan gaya hidup salah satunya harus terpenuhi.

Suasana pagi didalam bus kota membuatku melupakan sebentar tentang bu Marsinah, aku melihat bapak tua berkacamata sedang sibuk membaca surat kabar harian kota, anak-anak remaja berseragam sekolah saling bercerita tentang hebohnya ngeceng di Mall, seorang ibu berbaju kuning bersama anak kecil yang sepertinya mengantarkan ke sekolah, dibelakangnya ada pemuda berdasi yang sedari tadi memandangku, apa dia mengenalku.

Selama perjalanan hanya diam, aku perhatikan sekeliling dengan acuh, terkadang pak kondektur menegur karena tas yang aku bawa lumayan besar. "geser dikit dong non, sewa nih, kalau mau longgar sono noh, kuburan...!!!" sewotnya memaki penumpang seperti aku, diam dan diam lagi yang bisa aku lakukan.

Aku alihkan pandangan keluar jalanan, tiba-tiba penglihatanku terpaku pada sudut jalan, dari balik kaca jendela yang saat itu agak buram karena air hujan yang sejak tadi tak jua berhenti turun. "Sungguh indahnya...!!!" ucapku dalam hati, bagaimana tidak sepasang suami istri yang saling tersenyum bahagia berjalan berdua bergandengan tangan, si istri nampaknya telah hamil tua sedang sang suami..."MasyaAlloh...BUNT
UNG...!!!" teriakku dalam hati. Ya...salah satu tangannya telah buntung, namun tak kulihat rasa sesal dan malu dimata sang istri. Bahkan kulihat sang suami masih saja mencoba melindungi sang istri dari runtuhnya hujan dari langit dengan salah satu tangannya yang masih tersisa. TUHAN...?! Betapa mulia CINTA yang masih kau berikan pada si buntung ini. Betapa Kau jua masih memberi setitik kebahagiaan yang bagi dia. Aku sungguh terhentak dari lamunanku ketika aku sadar bahwa bus yang aku tumpangi akan sampai pada tujuan, Bank Mandiri Rawamangun.

"Copet...copet...copet...!
!!" teriak ibu berbaju kuning membuyarkan lamunan, seketika bus aku tumpangi berhenti mendadak, orang-orang tak ada yang bereaksi, ibu itu hanya menangis sesenggukan, aku melihat seorang pemuda turun dari bus mengejar lelaki yang membawa kabur tas itu, sesuatu yang berharga pasti ada didalamnya. Aku berusaha menenangkan dan mengajaknya turun dari bus, "surat berharga yang ibu khawatirkan, non..." Ibu itu mencoba menata kata-kata sedih.
"ibu minum dulu, sabar ya bu..." itu yang bisa aku lakukan, teh botol dingin segera aku tawarkan, lalu tangannya bersambut, sikecil berseragam sekolah hanya bengong melihat ibunya menangis.

"ini tasnya, bu..." seorang pemuda berkeringat dan lusuh tiba-tiba mengulurkan sebuah tas yang beberapa menit lalu berpindah tangan.
"copet itu sudah sering mencari mangsa didalam bus itu, dia memang berkedok karyawan yang memakai baju rapi dan berdasi, lain kali hati-hati..." aku perhatikan pemuda itu berbicara dengan nafas tak teratur.
"Ibu sangat berterima kasih nak..."
"Iya bu, sama-sama..."
"ini ada sedikit uang, mungkin tak seberapa besar dengan jasa yang kau lakukan..."
"Tidak bu, saya ikhlas kok, terima kasih banyak..."
"Kalau begitu ini kartu nama ibu, jika kamu perlu sesuatu bisa menghubungi dinomor ini, nama suami ibu, Sasmito"
"Ibu sedang buru-buru, hari ini hari pertama anak ibu masuk sekolah, jadi tidak boleh terlambat, siapa namamu anak muda?"
"Nama saya Ahmad..." jawaban pemuda kepada ibu itu mengagetkanku.
Aku berusaha melukis sosok yang tak jelas dalam bayangku, seperti apa yang dikatakan tetanggaku, mengapa mereka menilai anak bu Marsinah hanya lewat kacamata riben, yang justru tak jelas seutuhnya. Seorang pemuda yang didepanku memang sosok Ahmad yang jauh berbeda dengan apa yang pernah aku dengar, dia tampan, perawakannya tak jauh dengan Riky, senyumnya manis, dia hanya berbeda sifat dengan Riky, dia alami dan tak ada kepalsuan di wajahnya, dia pahlawan dadakan yang membuatku terkesima saat ini, dia ikhlas membantu orang, kerja kerasnya membuahkan hasil meskipun saat ini hanya ucapan terima kasih dari seorang ibu yang dia tolong.

Apa benar dia Ahmad, apa benar dia yang akan mengkhitbahku lewat bu Marsinah, mengapa aku jadi salah tingkah, sungguh ini bukan aku, Maya yang tegar ketika melihat sosok yang akan masuk dalam hati menggantikan posisi Riky, apa benar dia Ahmad anak bu Marsinah.

Ibu itu segera menyetop taxi yang lewat, orang orang yang semula berkerumun segera membubarkan diri setelah kepergian ibu dan anak tadi.

"Mas Ahmad tinggal dimana ?" tanyaku kepada sosok pahlawan dadakan yang berhati mulia. Dia mencoba menghabiskan minuman air mineral yang terlihat mengembun dibotolnya.
"Jalan Ridwan V, Cempaka Putih..." jawabnya.
Alamatnya tak seperti yang aku harapkan, alamat itu bukan daerah komplekku, jauh sekali, harus melewati beberapa kelokan lagi untuk sampai disana.
"Dia bukan Ahmad anak bu Marsinah" kesimpulanku dalam hati.
"Maaf mbak saya harus pergi, sudah ditunggu, maklum pekerja borongan harus tepat waktu..."
Dia pergi tanpa mendengar apa yang akan aku tanya selanjutnya, dia telah berlalu.

Ya Alloh mengapa hatiku masih belum bisa ikhlas, kembali terpatri pada cinta Riky, kecewa saat pemuda bernama Ahmad katakan alamatnya, buta sesaat ketika melihat sosok pemuda menjadi pahlawan dadakan, kenapa aku masih belum belajar pada kenyataan hidup yang sebenarnya tidak untuk disesali.

Setidaknya aku mendapat sebuah pelajaran hidup tentang CINTA, yang sebenarnya bukan melihat fisik atau materi, bukan pula dari keinginan untuk memiliki, namun dari rasa ingin melindungi dan menyayangi, dengan sepenuh hati, sebagaimana si Buntung yang melindungi istrinya dari terpaan hujan meski dengan satu tangan yang tersisa, Cinta tak pernah memilih pada siapa dia akan berpaut, kapan maupun dimana. Hari ini aku belajar satu lagi bab dalam mata rantai materi pelajaran hidup yang panjang yang harus kuselesaikan.
Aku belajar menghargai hidup. Aku belajar menghargai cinta. Aku belajar menghargai waktu yang masih tersisa di hidupku, karena aku takkan pernah tau SATU DETIK kedepan apa aku masih sempurna, atau menjadi TIDAK SEMPURNA. Karena TUHAN mampu memberi apapun pada kita.

Cinta pertama menghanyutkan segala
Hingga menggerlapkan mimpiku
Samudra membentang hanya untuk mengubur

Kutulis sebaris kata untuk cinta
Ikhlasku untukMu, Ya Robbi
Terlantun bagiMu yang menyentuh jiwa
Sebagaimana ikhlas sang istri si buntung
Mengapa hanya kesempurnaan yang aku fikirkan

----
Malam hari aku coba bicara dengan ibu, aku ceritakan kejadian demi kejadian tadi siang, ibu tersenyum melihat anaknya yang cantik sedang tersipu.
"Jadi anak ibu sudah bertemu dengan seorang Ahmad yang baik hati" goda ibu sambil menyisir rambutku yg lurus dan sudah mulai panjang.

"Assalamu'alaikum..." suara salam dari pintu masuk, aku dan ibu masih berada dikamar, ibu segera menjawab salam lalu berdiri menghampiri asal suara salam itu.
"Saya datang lagi, namun kali ini saya ajak anak, ini yang namanya Ahmad anak saya" aku mendengarkan dari balik kamar, tidak salah lagi itu suara ibu Marsinah.
"Ahmad kaget saya ajak kesini, dia juga belum pernah melihat Maya, namun dia ikhlas dengan apa yang akan menjadi pilihan ibunya"
"Sepertinya Maya masih harus meneruskan belajarnya meskipun dia sudah bekerja, dia belum bisa menerima lamaran dari siapapun, maaf bu Marsinah..." kalimat ibu begitu tertata, aku bangga mempunyai ibu yang bisa mengambil alasan yang tepat, meskipun sebenarnya itu bohong.
"Bagaimana nak ? Ibu sangat ingin mendapatkan menantu seperti ning Maya" kalimat bu Marsinah sepertinya tertuju kepada anaknya.
"Jika itu keinginan ibu, saya siap menunggunya sampai kapanpun..." suara itu samar kudengarkan.

Tak berapa lama ibu masuk ke kamarku, ibu memandangku dengan penuh harap.
"Tolong katakan kepadanya, jgn menungguku hingga senja berkabut telaga, aku msh berdiri menyelesaikan sulaman benang CINTA yg kusut..." ucapku hingga tak sanggup bendung air mata, aku menangis.
"Anakku...tidak adil jika kalian tidak saling jumpa, kau bisa menyimpulkan seorang pahlawanmu jika kau melihat sendiri lalu terkesima, kau bisa ikhlas tatkala melihat istri sang buntung sangat ceria, indah bukan keadilan yang ibu utarakan ? Temui mereka, nak..." kata-kata ibu sangat bijaksana.

"Ahmad...!!!"
"Mbak yang waktu itu bertemu dijalan?!!!" Ahmad berdiri menghormatiku datang.
"Allohu Akbar...!!!"
"Alloh yang punya rencana, lewat tangan ibu semua menjadi indah" ucapnya.

Tak sanggup lagi ku tahan gelora yang ada dihatiku untuk memiliki Ahmad, sesungguhnya hati ini menginginkanmu sejak peristiwa itu, mulai sekarang dan seterusnya aku tak harus sembunyi dari rasa ini, aku harus bangkit menyambut hari-hariku, ternyata Cintaku ada didepan mata.

"Ibu...tolong katakan kepadanya, sejak fajar sudah tak lagi berkabut, sejuta warna pelangi menghiasi ladang, siap menyambut mekarnya bunga dahlia, rusa bersayap putih dan kupu-kupu penebar madu siap menyambut senyumku, sungai kecil nan jernih mengartikan hatiku telah kosong dan siap untuk dijamah" ucapku berbisik ditelinga ibu.

"Alhamdulillah, itu baru anak ibu"

-pipowae-
Little stoy by : rahma and pipowae
Imagination and written by : pipowae
(cerita ini kupersembahkan bagi mereka yang menghargai kesulitan hidup menjadi keindahan semata, Lemah lan Kendhil, Gusti Allah sing Moho Adil)

Senin, 29 Juni 2009

Jujur Aku Ikhlas...


Dia masih memegang pinggangku sangat erat, kepalanya menopang dipundak, aku merasakan banyak air mata yg membasahi sweater-ku, suara isakan tangisnya samar-samar kudengarkan, karena helm standar yang kupakai cukup rapat untuk sekedar suara yang lirih, hanya angin nekat saja yang berani masuk kedalamnya. Sore itu kutancap gas motor berkecepatan 60km/jam, kulihat jam yang melingkar ditanganku menandakan waktu senja mulai menyambut malam, ya jam setengah 6.

"kau mau bawa aku kmana?" tanyanya lirih, tanpa aku jawab, aku hanya ingin dia mengira telingaku tak mendengar apa yang baru saja dia ucapkan. Tak lama dia menopangkan lagi kepalanya kepundak, layu seperti dedaunan lembab yang merindukan cahaya matahari.

Satu kelokan lagi akan tiba, sebuah gardu kecil menyambut kedatangan kami, seorang anak muda keluar memegang secarik kertas dan bolpen ditangannya. "seribu saja mas" ucapnya sambil mencatat plat nomorku disecarik kertas parkir. Wisata Pantai Lamaru Balikpapan.

"aku sudah menduga kau membawaku kesini, tempat yang selalu menginspiraku untuk bercerita, tempat untuk melepas keluhku, melepas sedihku" ucapnya bersamaan berhentinya motorku. Dia membuka jaket dan menyibakkan rambut yang semula sembunyi dibalik jaketnya.

"Dini mau es kelapa muda?" aku melihat sekeliling, kudapati segerombolan anak muda bermain bola dipinggir pantai, beberapa anak lelaki kecil berlarian menarik layang-layang diangkasa, beberapa gadis bersendagurau diatas batu besar yang mulai terkikis, mereka tertawa lepas seakan tanpa beban dihatinya, mungkin petang inilah ibu-ibu mereka mencari anak perawannya yang sudah selayaknya mereka pulang. Aku melihat penjual es kelapa muda tak jauh dariku berdiri, dua gelas es kelapa ples sirup manis cukup untuk melepas dahaga disore hari.

"aku semakin memahami ilmu ikhlas dan syukur, seperti alam menghargai bergantinya waktu siang dan malam, seperti karang besar dilaut yang rela melebur jadi bebatuan kecil dan kehilangan keindahannya, mungkin masih banyak lagi contoh yang Alloh berikan kepadaku..." ucap Dini mengawali cerita saat memutuskan duduk ditumpukan rumput yang terlihat lebat, dia melipat kaki untuk berusaha duduk dan kedua tangannya melipat pelan sweater-ku.

"seperti sweater-ku yang rela kau lipat-lipat dan kau basahi dengan air matamu..." gurauku mengawali tanggapanku mendengar keluhnya.

Dini menatapku sekilas, ada rona merah diwajahnya, lalu tersenyum menyambut es kelapa muda yang aku sodorkan, sore hari sangat inspiratif untuk bercerita apalagi diiringi angin besar menghempas tepat dimuka. Jidatnya yang halus mulai tampak berlipat, banyak menyimpan masalah berat yang hendak ia keluarkan, lalu matanya jauh menatap ke laut, nampak ada perahu kecil terombang ambing ditengah laut, satu orang tenang tetap melempar jaring ke laut, satu orang berusaha menyiapkan layar, kebiasaan rasa khawatir adalah wajar ketika semua berada dialam laut yang berontak.

"Uh...hahhhhhhhhhhhh...." Dini menarik nafas lalu mengeluarkannya kembali, membuat hampa yang ada didada kembali terisi dengan udara yang baru saja dia hirup.

"Pernah aku mengatakan, ilmu syukurku justru kudapat dari seseorang yang beragama non muslim. Aku adalah wanita biasa yang banyak orang berfikir tak punya kelebihan apa-apa, namun sebenarnya sejak dulu aku merasa penuh kelebihan. Bukan bermaksud menyombongkan diri. Sejak dulu dengan segala keterbatasan aku merasa kaya, aku merasa punya segalanya. Dilahirkan dari keluarga yg meski tak kaya namun cukup dihormati, punya keluarga yang saling menyayangi, banyak teman, diberi otak yang tak bodoh-bodoh amat, dan meski tak cantik namun banyak juga lelaki yang menaruh hati.

Aku cukup merasa bahagia dengan hidupku, hingga aku tak pernah meminta lagi pada ALLOH, aku malu karena kurasa semua sudah Ia berikan padaku. Hingga suatu waktu, aku harus kehilangan ayahku untuk selamanya.

Hari Pertama di Rumah Sakit.

Semula aku cukup sedih, tak henti-hentinya aku menangis setiap kali aku melihat ayahku berbicara dengan suara parau yang tak kumengerti, tergeletak tak berdaya pada ranjang rumah sakit dengan separuh badannya mati rasa. Hanya satu tangannya yang mampu bergerak menggapai-gapaiku seperti ingin memelukku, namun tak sampai. Aku mencoba mendekatkan wajahku agar aku bisa mendengar apa yang Beliau ucapkan. Namun aku tetap tak mampu mengerti karena syaraf lidahnya sudah rusak. Sepertinya aku tau apa yang ingin dikatakannya, "Din...kok gak kuliah, katanya hari ini ada ujian ?" tak sanggup lagi aku bendung air mataku, hingga aku berlari keluar ruangan, karna aku tak mau terlihat menangis didepan beliau.

Hari kedua.

Hari ini Ayahku dirujuk kerumah sakit yang agak besar, disinilah aku berkenalan dengan keluarga non muslim yang satu kamar dengan kami. Namanya Pak Edy, ia sakit sudah cukup lama dengan penyakit komplikasinya. Namun ia tak pernah menunjukkan rasa sedih, tertekan ataupun marah atas apa yang dialaminya. Bahkan masih sempatnya ia bersendau gurau dengan suster jaga. Aku cukup takjub.

Hari ketiga.

Masih terlihat jelas kesedihan dimataku yang ternyata terbaca dengan mudahnya oleh sepupu dari pak Edy yang ikut jaga beliau. Kamipun berkenalan. Aku masih ingat betul namanya "Aan Andy Marino" berasal dari lampung yang biasa aku panggil andint.

Hari Keempat.

Aku tak pernah tau apa yang akan dia tunjukkan padaku, tapi kali ini aku ikut saja ketika ia mengajakku berkenalan dengan seorang ibu bernama Ibu Lastri yang ternyata juga non muslim. Ibu lastri adalah seorang ibu yang suaminya habis operasi jantung, sedang kedua anaknya mengalami kecelakaan yang masing2 patah kaki dan satu gegar otak. Semua berada di Rumah sakit yang sama. Satu hal yang aku herankan, dari bibirnya masih tersungging senyuman, dan iapun masih tetap bersyukur dengan mengucap "Puji Tuhan Kami masih dikasihi oleh Tuhan..." Sungguh aku begitu takjub, ketika Andint jg mengatakan bahwa masih banyak yang mengalami kepahitan melebihi yang aku alami, tak seharusnya aku mengeluh karena mereka saja masih tetap bersyukur.

Hari selanjutnya.

Aku mulai mengerti apa itu Ikhlas dan syukur...
Aku ikhlas ketika ayahku akhirnya di ambil kembali...
Aku ikhlas ketika apa yang aku sayangi pergi dan tak kumiliki...
Karna aku yakin Alloh masih sayang aku...
Aku masih diberi kebahagiaan yang lain...
Aku masih punya banyak teman yang slalu mendukung... Tapi kali ini aku meminta banyak pada Alloh...

Ya ALLOH
Jangan biarkan aku menjadi lupa akan syukurku
Jangan biarkan hatiku menjadi kecil
Jadikanlah aku wanita biasa yang punya banyak nikmat
Jadikan aku wanita yang selalu ikhlas jika harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga sekalipun dalam hidupku
Karena smua yang aku miliki pasti akan diminta kembali oleh ALLOH" cerita Dini cukup menyita perhatianku untuk menyimak lebih dalam.

Matanya berlinang mengucap syukur
Senyumnya tegar menggumam ikhlas
Angin laut menebar wangi
Sewangi daun teh dikala ranum
Kilauan cahaya sore seindah raut wajah perawan
Menari dan tertawa terbahak menyibak cantiknya sahabatku

"aku tak mau pulang sebelum mentari terbit diesok hari, aku ingin menikmati malam dipinggiran Lamaru, melihat lampu kota Balikpapan dikala malam tampak dari kejauhan, menjawab lambaian jari-jari daun kelapa yang terjulur ketanah, mau kan kau menemaniku?" ajaknya.

"Din...aku tadi janji dengan ibumu untuk tidak membuatmu masuk angin, aku bilang cuma sebentar pergi ke pantai, kita harus pulang..." ucapku.

"Coba saja kau pulang, aku tak maksa, aku hanya ikut..." sewotnya terlihat dari nada bicaranya, aku mulai bangkit dari silaku, diapun mengikutinya.

Kucoba menggerakkan motorku, terasa berat digoyangkan kekanan dan kekiri.
"Wuaduhhhh gawat...siapa yang bocorin ban-nya, kok bisa sih keduanya kempes, ini pasti ada yang iseng..." kesalku.

"kenapa Win?" tanya Dini menambah bingungku.
"Oooo...itu tandanya kita disuruh pulang besok pagi...aku mau bermain ombak dulu ke pantai..." semakin bertambah bingungku dengan kalimat yg ia lontarkan.
"Kembali Din, kita harus pulang..." teriakku.

"Windu...maafin ya, aku yang kempesin ban-nya, kalau berani kejar aku..." teriak Dini ketika turun dari tangga besi yang menuju ke pinggiran laut, lalu dia berlari disepanjang pantai, riang menyiram air ke pasir-pasir yang kering, sesekali dia melempar sesuatu kelaut.

"Awas ya, aku kejar kau, sebelum langit berwarna gelap, aku bisa menangkapmu..." batinku.

Dia terus berlari
Membawa gerahnya senja
Meninggalkan jejak halus dipantai
Meneduhkan cumbu selaksa CINTA


-pipowae-

story by : rahma
imagination and written by : pipowae